Dauppare: Cerita rakyat dari Sulawesi Selatan
Keterangan Bibliografi
| Penulis | : Nurlina Arisnawati |
| Penulis 2 | : |
| Kontributor | : Jackson (ilustrator) |
| Penerbit | : BPBP Kemendikbud |
| Kota terbit | : Jakarta |
| Tahun terbit | : 2026 |
| ISBN | : 978-602-437-083-1 |
| Subyek | : cerita rakyat - Sulawesi Selatan |
| Klasifikasi | : 398. Nur d |
| Bahasa | : Indonesia |
| Edisi | : Cetakan 1 |
| Halaman | : xi, 55 hlm; 21 cm |
Jenis Koleksi Pustaka
E-Book
Kategori Pustaka
anak remaja umum
Abstraksi
Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.Dauppare, putri semata wayang dari seorang yang kaya raya adalah seorang gadis cantik yang berkulit putih, bertubuh tinggi, langsing, dan semampai, serta memiliki kepribadian yang sangat sederhana. Namun di matai bunya, semua pekerjaan Dauppare tidak ada yang benar. Ibunya selalu memarahinya, hingga Dauppare capek dan sakit hari, lalu pergi dari rumah menaiki kerbau karena mengganggap ibunya tidak sayang kepadanya. Ibu Dauppare mengejarnya, membujuk agar putrinya mau pulang. Sepanjang jalan dia menghamburkan beras. Ibu Dauppare pun mengambil beras tersebut. Ketika sampai di sebuah telaga, tiba-tiba rambut Dauppare berubah menjadi lumut. Setelah itu Dauppare dan kerbaunya berubah lagi menjadi batu. Batu jelmaan Dauppare dan kerbaunya itu akhirnya disebut batu Baine yang dalam bahasa Toraja berarti ‘batu perempuan’. Sampai sekarang batu itu masih dapat dilihat di sawah yang bernama Sesean di daerah Sillanan.
Inventaris
| # | Inventaris | Dapat dipinjam | Status Ada |
| 1 | 327/L2/2026 | Ya |