Banterang Surati: cerita rakyat dari Jawa Timur
Keterangan Bibliografi
| Penulis | : M. Oktavia Vidiyanti |
| Penulis 2 | : |
| Kontributor | : Yol Yulianto (ilustrator) |
| Penerbit | : BPBP Kemendikbud |
| Kota terbit | : Jakarta |
| Tahun terbit | : 2016 |
| ISBN | : 978-602-437-155-5 |
| Subyek | : cerita rakyat - Jawa Timur |
| Klasifikasi | : 398. M. b |
| Bahasa | : Indonesia |
| Edisi | : Cetakan 1 |
| Halaman | : iii 76 hlm; 21 cm |
Jenis Koleksi Pustaka
E-Book
Kategori Pustaka
anak remaja umum
Abstraksi
Cerita rakyat berjudul Banterang Surati adalah cerita rakyat tradisional dari Banyuwangi Jawa Timur yang memperlihatkan bagaimana struktur sosial masyarakat Banyuwangi yang dapat dilihat seperti bagaimana kerukunan dalam antarumat beragama, menghormati musuh, serta sikap kepahlawanan. Raden Banterang dari Blambangan sedang gelisah, meginginkan daerah Nusa Lembangan dan Semenanjung Purwa berada di bawah kekuasaannya. Berbatasan dengan laut Blambangan, terdapat Kerajaan Klungkung yang dipimpin raja I Gusti Agung Rake bersama adiknya Ayu Gusti Surati. Unutk menghadapi Blambangan, I Gurti Agung Rake meminta adiknya Ayu Gusti Surati untuk menyamar menjadi rakyat biasa dan tinggal di Blambangan. Sementara itu, ketika sedang berburu di hutan Benoa, Pangeran Banterang bertemu dengan Surati. Mereka akhirnya menikah. Namun, cobaan masih belum usai. Gusti Agung Rake yang menyamar menjadi Tabib Mandra menemui Surati, lalu meninggalkan keris sebagai persembahan. Banterang yang melihat keris itu menjadi curiga bahwa Surati bersekongkol hendak membunuhnya. Untuk membuktikan ketulusannya Surati bunuh diri menggunakan keris tersebut. Dari darahnya yang mengalir, tercium bau harum. Kini, daerah itu bernama Banyuwangi, sebuah daerah di ujung timur Jawa Timur.
Inventaris
| # | Inventaris | Dapat dipinjam | Status Ada |
| 1 | 329/L2/2026 | Ya |